Orang
tua merupakan panutan bagi anak. Dia adalah contoh yang paling sering dilihat
oleh anak. Cara orang tua bersikap adalah sesuatu yang penting. Pola asuh orang
tua menjadi sorotan utama dalam membentuk kepribadian sang anak. Namun, tanpa
disadari ada beberapa hal yang ternyata sering dilakukan orang tua tetapi
ternyata tidak baik untuk anak. Hal itu dapat mempengaruhi segi kepribadian
anak, sehingga kepribadian anak dapat menjadi pendiam, penakut, ragu-ragu, dll.
Inilah hal-hal yang sering dilakukan orang tua akan tetapi tidak baik untuk
perkembangan kepribadian anak.
1.
Memaksakan Anak Dalam Hal Belajar
Hal
yang satu ini bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Walaupun belajar itu
memang menjadi kewajiban anak, tetapi memaksakan anak untuk belajar adalah hal
yang buruk. Terkadang anak merasa malas dan lambat dengan aktivitas belajarnya.
Sebab itu sebelum menuding anak dengan hal yang tidak-tidak, kita perlu untuk
mengenal bagaimana gaya serta metode belajar anak agar pelajaran dapat terserap
masuk dan menambah keilmuannya. Menurut Putu Andita, Psikolog Anak dan Remaja
dari TigaGenerasi menjelaskan bahwa jika anak dipaksa untuk belajar dan tidak
sesuai dengan gayanya, informasi yang diserap akan menjadi tidak optimal. (http://lifestyle.kompas.com/read/2016/09/30/111500223/ini.akibatnya.jika.memaksa.anak.belajar.tak.sesuai.gayanya)
2.
Memberikan Uang Saku Terhadap Anak Secara Berlebihan
Memberikan
uang saku anak dapat menjadikannya sebagai pengalaman yang bagus untuk anak. Akan
tetapi jika diberikannya secara berlebihan maka akan membuat anak jadi semakin
tidak mandiri dalam urusan uang saku. Berikanlah anak jumlah uang saku yang
sesuai agar anak terpikirkan untuk berhemat serta berhati-hati.
Untuk
memulai pemberian uang saku ke anak hendaknya diberikan jika anak sudah paham
dengan konsep uang dan angka. Kira-kira anak sudah paham akan kedua hal itu
dikisaran umur 5 tahun. Akan tetapi, cobalah untuk menghentikan pemberian uang
saku ketika sang anak berumur 12 tahun. Buatlah dia meningkatkan pemahamannya
tentang uang saku dan membuat ia memperoleh uang sakunya sendiri dengan
melakukan “pekerjaan berupah”. Di usia ini, anak sangat perlu belajar mengelola
pendapatannya sendiri. (https://keluarga.com/493/4-tips-jitu-untuk-memberikan-uang-saku-kepada-anak)
3.
Tidak Membatasi Anak Dalam Bermain Gadget
Di
era digital ini, sudah menjadi hal umum bila anak-anak tidak terlepas dari yang
namanya gadget. Bahkan anak usia dini pun kini telah memainkannya. Maka dari
itu, orang tua sangat perlu untuk membatasi anak dalam menggunakan gadget agar
sang anak mampu mengembangkan aspek-aspek penting dalam hidupnya. Bukan berarti
membatasi anak dalam bermain gadget adalah pelanggaran hak anak, hal itu tergantung
dari alasannya. Apakah itu untuk kepentingan sang anak atau untuk kepentingan
orang tua itu sendiri. (http://www.parenting.co.id/usia-sekolah/membatasi+gadget+%3D+pelanggaran+hak+anak%3F)
4.
Tidak Memperhatikan dan Acuh Terhadap Perkembangan Anak
Orang
tua yang selalu sibuk dengan pekerjaannya mungkin memiliki waktu yang kurang
dalam memperhatikan si anak. Mungkin ada beberapa orang tua yang beralasan
bahwa prioritas itu untuk kepentingan keluarga dan anak. Pada tahun 1960-an,
peneliti menemukan tiga jenis pola asuh terhadap anak. Beberapa tahun kemudian,
para peneliti menambahkan satu jenis pola asuh dengan nama uninvolved parenting. Orang tua yang menerapkan pola asuh ini
memiliki sedikit atau tidak sama sekali kontrol terhadap anak. Mereka cenderung tidak acuh terhadap anak serta kurangnya respon terhadap kebutuhan si anak. (http://ibudanmama.com/pola-asuh/dampak-orang-tua-cuek-pada-anak/)
Baca Juga: 11 Hal Yang Mungkin Tidak Anda Ketahui Mengenai Kopi Di Pagi Hari
5. Mengabaikan Pemberian Pelajaran Moral Kepada Anak
Banyak
dari orang tua yang kurang memperhatikan masalah ini. Padahal pemberian
pelajaran moral kepada anak sangat penting. Moral yang baik harus tertanam
dalam diri anak. Jika tidak, maka anak akan terbentuk dengan memiliki
kepribadian yang buruk. Dengan begitu, si anak akan susah untuk hidup berdampingan
di dalam masyarakat. Kebaikan dan akhlak yang baik tidak dapat muncul begitu
saja. Ia perlu dituntun dan diajarkan agar anak lebih paham mengapa moral
sangat diurgensikan. (https://muslimah.or.id/1175-orang-tua-yang-lalai-memperhatikan-anak.html)
6.
Melakukan Pekerjaan Kantor Di Waktu Libur
Waktu
libur seharusnya diberikan sepenuhnya kepada anak. Berikanlah anak waktu untuk
berbagi dan berkumpul bersama keluarga agar dia mampu mendekatkan diri dan
mendapatkan suatu momen yang indah di dalam keluarga. Tak ada patokan berapa
lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan momen itu. Yang terpenting ialah selalu
berikan waktu berkumpul yang berkualitas terhadap anak. menurut Rowland S.
Miller dari Sam Houston University dalam
bukunya bahwa komunikasi yang dipupuk oleh keluarga secara rutin akan
menghasilkan kedekatan emosional semakin dalam. (http://www.parenting.co.id/dunia-mama/waktu+berkualitas+bersama+anak+)
7.
Memaksakan Kehendak Anak Dalam Hal Masa Depan
Sudah
menjadi kebiasaan jika orang tua mendidik anak seperti apa yang dia inginkan. Bahkan
untuk membuat harapannya menjadi kenyataan, tidak sedikit orang tua yang
memaksakan kehendak anak. Orang tua lalu menentukan dan menetapkan masa depan
yang harus dilalui sang anak. inilah yang banyak membuat anak mengalami
pengaruh buruk bagi perkembangan dan pendidikan anak. Lalu si anak menjalani
kehidupan dengan keterpaksaan dan di bawah tekanan orang tua. Hal tersebut
menyebabkan anak kehilangan daya kreatifnya yang sedang berkembang di usianya.
(http://www.kompasiana.com/roselinatjiptadinata/orang-tua-jangan-memaksakan-kehendak-pada-anak_571582b51d23bd1b0f753a21)








EmoticonEmoticon